Breaking News

Tragedi Longsor dan Lahar Dingin Gunung Semeru: Dampak dan Antisipasi

 


InternasionalBerita - Kejadian tragis yang menimpa warga di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, telah menelan korban jiwa dan merusak sejumlah fasilitas vital. Banjir lahar dingin yang dipicu oleh intensitas hujan tinggi di Gunung Semeru telah menyebabkan kerusakan yang cukup parah, menuntut tindakan cepat dan antisipasi lebih lanjut dari pihak berwenang.

1. Kronologi dan Dampak Banjir Lahar Dingin

Menurut laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, tiga orang warga tewas dalam peristiwa tersebut. Satu orang meninggal dunia karena tertimbun longsor di Kecamatan Pronojiwo, sedangkan dua lainnya terbawa arus lahar dingin di Kecamatan Candipuro. Kejadian ini terjadi pada Kamis, 18 April 2024, sekitar pukul 19.30 WIB.

Intensitas hujan yang tinggi di wilayah Gunung Semeru menyebabkan meluapnya debit air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Regoyo, Mujur, dan Glidik. Sembilan kecamatan terdampak langsung oleh banjir lahar dingin ini, termasuk Pronojiwo, Candipuro, Pasirian, Lumajang, Sukodono, Sumbersuko, Pasrujambe, Padang, dan Tempeh.

Akibatnya, empat rumah warga mengalami kerusakan berat, bersama dengan satu unit sepeda motor, 24 unit DAM irigasi, dan 17 jembatan. Delapan jembatan putus total akibat luapan lahar dingin dari DAS Regoyo, Mujur, dan Glidik. Akses jalan nasional Lumajang-Malang via Piket Nol Pronojiwo juga terganggu dan ditutup untuk sementara waktu, menuntut upaya penanganan serius dari pihak berwenang.

2. Antisipasi dan Tindakan Pencegahan

Dalam menghadapi potensi bahaya lebih lanjut, Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) telah mengeluarkan imbauan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat di sekitar daerah aliran sungai. Kondisi kabut dan hujan di daerah puncak Gunung Semeru, bersama dengan potensi awan panas, menuntut respons cepat dan kesiagaan yang lebih tinggi.

Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Lumajang, bersama dengan tim gabungan, terus melakukan asesmen dan pembersihan material lahar dingin. Monitor terus dipasang untuk memantau situasi dan potensi bahaya lanjutan yang mungkin terjadi. Upaya ini penting untuk memastikan keselamatan dan keamanan masyarakat yang terdampak serta meminimalkan kerusakan lebih lanjut akibat bencana alam.

Baca Juga : Perubahan pada Puncak Jaya Papua: BMKG Mengungkap Fakta Lapisan Es yang Berkurang

3. Pentingnya Mitigasi dan Kesadaran Lingkungan

Peristiwa ini sekali lagi mengingatkan kita akan pentingnya mitigasi bencana dan kesadaran lingkungan yang lebih besar. Perubahan iklim yang menyebabkan intensitas hujan yang tidak biasa perlu ditanggapi dengan serius. Upaya mitigasi seperti penanaman pohon, pengurangan sampah plastik, dan penggunaan energi terbarukan harus ditingkatkan untuk mengurangi risiko bencana yang lebih besar di masa depan.

Dengan mempelajari dan merespons pelajaran dari peristiwa tragis ini, kita dapat membangun masyarakat yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga non-pemerintah, dan masyarakat sipil akan menjadi kunci dalam mempersiapkan diri dan merespons bencana alam dengan lebih efektif. Cari tahu juga informasi menarik dan terupdate lainnya di  Liputan Berita

© Copyright 2022 - INTERNASIONAL BERITA - BERITA MASA TERKINI